Aku Datang untuk Mencari Wajah-Mu Wahai Sang Pemilik Semesta
![]() |
Perjalanan ke Baitullah bukanlah sekadar berpindah tidur dari satu kasur ke kasur lainnya. Ia adalah perjalanan ruhani yang dirancang sedemikian rupa untuk menanggalkan ego kita.
Ketahuilah, "Jarak Hanyalah Bumbu, Bukan Penentu". Seringkali kita terjebak pada hitungan meter. Kita berpikir bahwa hotel di pelataran Masjidil Haram adalah puncak kenikmatan, sementara hotel yang agak jauh adalah sebuah "ujian berat".
Jika kita melihatnya dengan mata hati, jarak itu sebenarnya hanyalah bumbu perjalanan.
Bukankah, Langkah Kaki adalah Penggugur Dosa. Setiap tetes keringat saat berjalan menuju masjid adalah saksi perjuangan. Di setiap langkah itulah, Allah sedang mencuci khilaf kita.
Bukalah Ruang Diskusi dengan Diri Sendiri. Jarak memberi kita waktu untuk berdzikir lebih lama sebelum sampai ke pintu masjid, sebuah kemewahan yang mungkin terlewatkan bagi mereka yang hanya selangkah sudah sampai.
Juga, Jarak merupakan Madrasah Kesabaran. Di sinilah kita dididik untuk tidak mengeluh. Umroh dan Haji adalah simulasi kehidupan—bahwa tidak semua hal harus nyaman untuk menjadi berkah.
Belajar Menerima Ketentuan-Nya Saat kita merasa lelah karena jarak, ingatlah bahwa kita sedang menjadi Tamu Allah. Seorang tamu yang baik tidak akan mendikte sang Tuan Rumah tentang bagaimana ia harus disambut.
Penerimaan (ridha) terhadap fasilitas yang ada—baik itu hotel bintang lima di depan mata atau penginapan sederhana yang menuntut langkah lebih jauh—adalah inti dari ibadah yang mabrur.
Kita tidak sedang berwisata, kita sedang berjuang. Dan dalam perjuangan, letak kemuliaan bukan pada kemudahan, melainkan pada ketulusan dalam menghadapi payah.
" Bukanlah jauhnya jarak yang melukai kaki,
Tapi tipisnya syukur yang membuat hati merugi.
Di pelataran atau di lorong yang jauh bersembunyi,
Asalkan Dia rida, di situlah surga menanti.
Biarlah lelah ini menjadi saksi di hadapan Ilahi,
Bahwa aku datang bukan mencari mimpi yang fana,
Melainkan mencari wajah-Mu, wahai Sang Pemilik Semesta.
Jangan biarkan urusan "jarak hotel" mengeruhkan jernihnya niatmu. Nikmati setiap jengkal tanah yang kau pijak. Tarik napas dalam-dalam, tersenyumlah pada rasa lelahmu, dan katakan dalam hati: "Ya Allah, aku rida dengan cara-Mu mendidikku."
Semoga perjalananmu dipenuhi kedamaian dan menjadi kenangan yang paling indah di sisi-Nya. (ist)
