Jabal Nur Mengajarkan bahwa Kebenaran Sering Datang di Tempat Sepi
![]() |
| Gunung Jabal Nur di Makkah tempat wahyu pertama turun di bumi |
Jamaah haji Ponorogo yang manasik di KBIHU Al Haromain Ponpes Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo mengadakan Tour City di Makkah, Rabu (13/5/2026). Yang dikunjungi antara lain: Jabal Nur, Jabal Tsur dan Jabal Rahmah. Jurnalis Ponorogo Pos Group, Muhammad Yani yang ikut rombongan tour city melaporkan untuk pembaca secara berseri. Berikut seri 1 (pertama).
Kunjungan pertama tour city adalah Jabal Nur. Tim pemandu terus memberi materi kepada jamaah haji tentang arti Jabal Nur yaitu "Gunung Cahaya". Kalau kamu pernah lihat foto Ka'bah dari kejauhan dengan latar bukit batu yang gersang dan satu titik kecil di puncaknya, nah itu Jabal Nur. Tingginya cuma sekitar 642 meter, tapi tempat ini luar biasa istimewa dalam sejarah Islam.
Jabal Nur dulu cuma salah satu bukit biasa di pinggiran Makkah. Nggak ada yang istimewa dari batu granitnya yang kasar, panasnya yang menyengat siang hari, dan jalannya yang curam. Namanya juga belum Nur. Orang Makkah waktu itu lebih sering nyebut bukit-bukit di sekitar Hira aja dengan nama umum.
Yang bikin dia beda adalah sebuah gua kecil di puncaknya: *Gua Hira*. Gua ini nggak besar, cuma muat 3-5 orang duduk bersila. Panjangnya sekitar 4 meter, lebar 1.5 meter. Dari dalam gua, kalau kamu ngintip keluar, kamu bisa lihat Ka'bah di kejauhan. Pemandangannya sepi, jauh dari hiruk pikuk pasar.
Sekitar 15 tahun sebelum kenabian, Muhammad bin Abdullah sudah punya kebiasaan naik ke Jabal Nur tiap tahun, terutama di bulan Ramadhan. Beliau bawa bekal kurma, air, dan kain. Tinggal berhari-hari di Gua Hira buat _tahannuts_—menyepi, merenung, menjauh dari kemusyrikan dan kekacauan Makkah.
Bayangkan: umur 40 tahun, seorang pedagang yang jujur dan dihormati, tapi hatinya gelisah. Dia lihat masyarakat Quraisy menyembah berhala, menindas yang lemah, hidup dalam kebanggaan kabilah. Di Gua Hira itu, dia diam. Nggak sholat dengan cara yang kita kenal sekarang, karena wahyu belum turun. Cuma duduk, mikir, berdoa dengan caranya sendiri, minta petunjuk.
Jabal Nur waktu itu jadi saksi kesendirian yang berat. Jalannya naik itu ganas. Orang sekarang aja ngos-ngosan 1.5 jam buat naik turun. Dulu nggak ada tangga semen, cuma batu-batu tajam. Kalau malam, gelap gulita. Kalau siang, panasnya bisa bikin kepala pusing. Tapi Muhammad SAW tetap naik. Ada sesuatu yang menariknya ke atas sana.
Peristiwanya terjadi di malam 21 Ramadhan, tahun 610 M. Usia Muhammad SAW 40 tahun.
Malaikat Jibril datang ke dalam gua itu. Perintah pertamanya cuma satu kata: Iqra'! Bacalah! Muhammad SAW menjawab, "Aku tidak bisa membaca."
Jibril mendekapnya kuat-kuat, lalu mengulanginya lagi. Tiga kali. Sampai akhirnya turun ayat pertama:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah." (QS Al-Alaq: 1-3)
Di situlah Jabal Nur berubah status. Dari bukit batu biasa jadi tempat turunnya wahyu pertama. Tempat langit menyentuh bumi. Itulah kenapa namanya jadi Jabal Nur—Gunung Cahaya. Karena cahaya wahyu pertama kali menyala di sana.
Guncangannya nggak main-main. Muhammad SAW turun dari gunung dengan tubuh gemetar, lari ke Khadijah istrinya, minta diselimuti. "Zammiluni, zammiluni!" Selimuti aku, selimuti aku! Beliau takut. Takut ini jin, takut ini gila. Tapi Khadijah menenangkan. Dan sejarah mulai berjalan.
Setelah wahyu turun, Jabal Nur nggak jadi tempat ibadah khusus. Nabi SAW sendiri nggak pernah menyuruh sahabat buat ziarah ke sana setelah itu. Nggak ada sholat khusus, nggak ada doa khusus di Gua Hira.
Tapi manusia itu rindu sama tempat yang bersejarah. Jadi sampai sekarang, tiap musim haji dan umrah, ribuan orang tetap naik ke sana. Kadang malam hari biar nggak kepanasan. Jalurnya sekarang sudah dibuatkan tangga batu, ada lampu, ada tempat istirahat. Tapi tetap aja capek.
Lucunya, banyak yang naik bukan buat ibadah wajib, tapi buat "merasakan" apa yang dirasakan Nabi. Duduk di dalam Gua Hira yang sempit, membayangkan gelapnya malam itu, dinginnya angin, dan beratnya amanah yang baru saja turun. Rasanya beda. Dari atas, kamu lihat Makkah yang sekarang penuh lampu dan gedung tinggi. Kontras banget sama Makkah 1400 tahun lalu yang sunyi.
Kebenaran sering datang di tempat sepi. Bukan di pasar, bukan di majelis ramai. Tapi di tempat kamu sendirian sama dirimu sendiri dan Tuhan.
Perubahan besar dimulai dari yang kecil dan berat. Gua Hira itu sempit, jalannya susah, tapi dari sanalah wahyu mengalir.
Cahaya itu nggak selalu besar dulu. Yang turun pertama cuma 5 ayat. Pendek. Tapi cukup buat mengubah peradaban.
Sekarang kalau kamu pergi haji atau umrah, pemandu biasanya bilang, "Nggak wajib naik ya, yang penting jangan sampai capeknya bikin ibadah utama terganggu." Itu bener. Jabal Nur itu simbol, bukan rukun.
Tapi simbol itu kuat. Karena setiap kali kamu lihat batu-batu kasar di puncaknya, kamu kamu diingatkan wahyu pertama turun di tempat yang susah dijangkau, bukan di istana. Allah milih tempat yang sederhana buat memulai sesuatu yang maha besar. (ist)
