[] NEWS

Tangisan Seorang Ayah di Gaza dan Kegagalan Nurani Politik Dunia

Oleh: Ali Musa Harahap, Ph.D
Dosen Ilmu Politik Univ. Darussalam Gontor

SETIAP perang selalu meninggalkan angka. Jumlah korban tewas, bangunan yang hancur, rumah sakit yang lumpuh, serta ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Namun sesungguhnya, perang tidak pernah hanya tentang statistik. Di balik setiap angka terdapat manusia dengan impian, kasih sayang, dan kehidupan yang tidak akan pernah kembali. 

Belakangan ini, media sosial dipenuhi oleh sebuah kisah yang mengguncang hati. Dikisahkan seorang ayah di Gaza terjebak di bawah reruntuhan bangunan setelah serangan udara. Para relawan berhasil menemukan dirinya, tetapi sang ayah memohon agar tidak diselamatkan terlebih dahulu. 

Di bawah puing-puing, kedua putrinya masih menggenggam tangannya. Ia dikabarkan berkata, "Biarkan saya. Anak-anak saya ada di sini. Saya tidak ingin keluar sendirian."

Terlepas dari apakah seluruh detail kisah tersebut dapat diverifikasi secara independen, narasi itu menyentuh hati jutaan orang karena merepresentasikan kenyataan yang telah berulang kali terjadi di Gaza: keluarga yang tercerai-berai, orang tua yang kehilangan anak-anaknya, dan anak-anak yang kehilangan masa depannya akibat konflik bersenjata. 

Dalam ilmu politik, negara dibentuk untuk menjamin keamanan warganya. Namun ketika perang berlangsung tanpa batas yang jelas, keamanan menjadi barang mewah yang tidak lagi dimiliki masyarakat sipil. Yang paling menderita bukanlah mereka yang memegang senjata, melainkan perempuan, anak-anak, lansia, dan keluarga biasa yang tidak pernah memilih menjadi bagian dari peperangan.

Konflik Gaza telah menunjukkan bagaimana politik internasional sering kali gagal menjalankan fungsi moralnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan berbagai resolusi. Negara-negara besar menyampaikan pernyataan diplomatik. Organisasi internasional menyerukan penghentian kekerasan. Namun di lapangan, bom tetap berjatuhan, rumah tetap runtuh, dan korban sipil terus bertambah.

 Fenomena ini menunjukkan adanya jurang antara norma internasional dan realitas politik global. Dalam teori hubungan internasional, kepentingan nasional sering kali lebih dominan daripada nilai-nilai kemanusiaan universal. Hak veto di Dewan Keamanan PBB, rivalitas geopolitik, serta kepentingan strategis negara-negara besar sering kali menghambat lahirnya tindakan yang efektif untuk melindungi warga sipil.

Ironisnya, ketika diplomasi mengalami kebuntuan, masyarakat dunia justru dipertontonkan gambar-gambar yang perlahan menjadi bagian dari rutinitas. Foto anak-anak yang berlumuran debu, rumah sakit yang penuh korban, atau orang tua yang menangisi jenazah anaknya berlalu begitu saja di layar telepon genggam. Kita menggeser layar, lalu melanjutkan aktivitas seolah tragedi itu hanyalah berita biasa.

Di sinilah tantangan terbesar kemanusiaan moderen. Bukan hanya perang itu sendiri, melainkan normalisasi terhadap penderitaan. Ketika manusia mulai terbiasa melihat kematian tanpa lagi merasa tergugah, sesungguhnya yang sedang hancur bukan hanya sebuah kota, tetapi juga nurani peradaban. 

Islam mengajarkan bahwa membunuh satu jiwa yang tidak bersalah seakan-akan membunuh seluruh umat manusia, sedangkan menyelamatkan satu kehidupan sama dengan menyelamatkan seluruh manusia. Nilai universal ini sejalan dengan prinsip-prinsip hukum humaniter internasional yang menempatkan perlindungan terhadap warga sipil sebagai kewajiban semua pihak yang berkonflik.

Karena itu, tragedi Gaza bukan semata persoalan kawasan Timur Tengah. Ia adalah ujian bagi konsistensi dunia dalam menegakkan nilai-nilai yang selama ini diklaim sebagai fondasi peradaban modern: hak asasi manusia, keadilan, dan penghormatan terhadap kehidupan. Masyarakat internasional tentu boleh berbeda pandangan mengenai akar konflik, sejarah wilayah, maupun solusi politik yang paling tepat. 

Akan tetapi, tidak boleh ada perbedaan pendapat mengenai satu hal: anak-anak tidak boleh menjadi korban perang. Tidak ada kepentingan politik yang dapat membenarkan hilangnya kehidupan warga sipil.

Jika kisah seorang ayah yang enggan diselamatkan tanpa putri-putrinya mampu menggugah hati jutaan orang, maka kisah itu seharusnya juga menggugah para pemegang kekuasaan. Sebab setiap hari yang berlalu tanpa perlindungan nyata bagi warga sipil adalah hari ketika politik kembali gagal menjalankan fungsi kemanusiaannya. 

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya akan mencatat siapa yang memenangkan peperangan. Sejarah juga akan mengingat siapa yang memilih diam ketika kemanusiaan sedang memanggil. Dan sering kali, diam adalah bentuk lain dari kegagalan moral. 

Pertanyaannya kini sederhana namun mengusik nurani, berapa banyak lagi tangisan seorang ayah yang harus terdengar sebelum dunia benar-benar memutuskan bahwa setiap nyawa manusia layak untuk dilindungi? (*)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar